Idul adha
Ceramah
K
Kank Okay
1 Mei 2026
3 menit baca
1 views
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. ...
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَبِهِ نَسْتَعِينُ عَلَى أُمُورِ الدُّنْيَا وَالدِّينِ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْمُرْسَلِينَ، سَيِّدِنَا وَنَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ.
قَالَ اللهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْكَرِيمِ:
«فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ» (الكوثر: 2)
رَبِّ اشْرَحْ لِي صَدْرِي وَيَسِّرْ لِي أَمْرِي وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِي يَفْقَهُوا قَوْلِي.
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Yang terhormat para alim ulama, para kiai dan ustadz, para tokoh masyarakat, bapak-bapak, ibu-ibu, saudara-saudari sekalian yang saya muliakan. Sungguh suatu kehormatan bagi saya dapat berdiri di hadapan Bapak, Ibu, Saudara sekalian pada hari yang penuh berkah ini. Tiada kata yang paling indah terucap selain rasa syukur kehadirat Allah Subhanahu Wa Ta'ala atas limpahan rahmat, karunia, dan nikmat-Nya, sehingga kita dapat berkumpul di majelis yang insya Allah penuh berkah ini.
Hari ini kita berada di penghujung bulan Dzulhijjah, bulan yang memiliki keistimewaan tersendiri dalam kalender Islam. Kita baru saja merayakan salah satu hari raya terbesar umat Islam, yaitu Idul Adha, yang juga dikenal sebagai Hari Raya Kurban. Tema yang akan kita bahas pada kesempatan berbahagia ini adalah tentang hakikat Idul Adha dan urgensi berkurban dalam kehidupan seorang Muslim.
Hadirin sekalian yang dirahmati Allah.
Idul Adha bukan sekadar perayaan keagamaan semata, namun ia adalah sebuah momen refleksi mendalam tentang makna pengorbanan, ketaatan, dan kepatuhan total kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Kisah Nabi Ibrahim alaihissalam dan putranya, Nabi Ismail alaihissalam, menjadi pondasi dari syariat kurban ini. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
«وَاِذِ ابْتَلٰىۤ اِبْرٰهِيْمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَتَمَّهُنَّ ۖ قَالَ اِنِّىْ جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ اِمَامًا ۗ قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِىْ ۗ قَالَ لَا يَنَالُ عَهْدِى الظَّالِمِيْنَ» (QS. Al-Baqarah: 124)
Artinya: *“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menyempurnakannya. Allah berfirman, ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikan engkau imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata, ‘Dan dari keturunanku?’ Allah berfirman, ‘Janganlah perjanjian-Ku berlaku bagi orang-orang zalim.’”*
Nabi Ibrahim diuji dengan perintah menyembelih putranya tercinta, Ismail. Sebuah ujian yang luar biasa berat, namun keimanan beliau begitu kokoh. Beliau meletakkan ketundukan kepada perintah Allah di atas segalanya, bahkan di atas rasa cintanya kepada putranya. Akhirnya, Allah Subhanahu Wa Ta'ala mengganti Ismail dengan seekor domba yang besar sebagai kurban. Dari sinilah, perintah berkurban bagi umat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam juga disyariatkan. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:
«لَنْ يَّنَالَ اللهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ ۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ» (QS. Al-Hajj: 37)
Artinya: *“Daging (hewan kurban) dan darahnya sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah takwa kamu. Begitulah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya. Dan sampaikanlah (wahai Muhammad) kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”*
Ayat ini dengan tegas menyatakan bahwa nilai kurban bukanlah pada daging atau darahnya, melainkan pada ketakwaan, keikhlasan, dan niat yang tulus dari hati kita untuk mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Berkurban adalah wujud nyata dari ketundukan kita, keberanian kita untuk melepaskan sesuatu yang kita cintara demi meraih keridhaan Sang Pencipta.
Dalam kehidupan kita di desa, semangat berkurban ini hendaknya terus dipupuk. Bukan hanya mereka yang memiliki harta berlebih, namun siapa saja yang mampu, dianjurkan untuk berkurban. Kurban mengajarkan kita untuk berbagi, merasakan kebahagiaan orang lain, terutama bagi mereka yang kurang beruntung. Daging kurban yang dibagikan adalah wujud nyata solidaritas sosial dalam Islam.
Selain itu, Idul Adha mengingatkan kita akan pentingnya pengorbanan dalam hal yang lain. Mengorbankan waktu untuk keluarga yang lebih baik, mengorbankan ego demi keharmonisan, mengorbankan keinginan sesaat demi tujuan jangka panjang yang mulia. Semua bentuk pengorbanan yang dilandasi niat lillahita'ala adalah bagian dari spirit Idul Adha.
Maka dari itu, mari kita jadikan momentum Idul Adha ini untuk senantiasa meningkatkan ketakwaan kita. Mari kita hadirkan semangat pengorbanan dalam setiap aspek kehidupan kita. Mari kita sebarkan kebaikan, kepedulian, dan empati kepada sesama, sebagaimana teladan para nabi dan rasul. Jadikan ibadah kurban sebagai sarana untuk membersihkan hati, mendekatkan diri kepada Allah, dan mempererat tali persaudaraan.
Akhir kata, semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala menerima segala amal ibadah kita, termasuk ibadah kurban kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang senantiasa dalam lindungan dan rahmat-Nya. Atas nama pribadi dan seluruh panitia, kami memohon maaf yang sebesar-besarnya apabila terdapat khilaf dan kekurangan dalam penyampaian kami.
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ.